Opini

Upaya Unsyiah Membangun Kapasitas Pengetahuan Kebencanaan

Di samping mendatangkan duka dan nestapa, harus diakui bahwa bencana tsunami 2004 mendatangkan banyak inspirasi dan cara pandang baru dalam kita menatap masa depan. Pascatsunami 2004, paradigma bangsa ini menghadapi bencana berubah total, dari responsif menjadi preventif. Tsunami juga meredupkan api pertikaian, menumbuhkan kesepahaman berbagai pihak untuk menyemai perdamaian di Aceh.
Dalam konteks Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), kejadian tsunami 2004 telah mengetuk kesadaran sivitas akademika untuk lebih menyadari keberadaan universitas di daerah rawan bencana. Karena itu, Unsyiah perlu mengambil peran dan tanggung jawab yang pro- porsional dalam menghadapi bencana.
Dalam artikel ini, saya ingin menguraikan tekad, upaya, dan perjalanan Unsyiah dalam membangun kapasitas pengetahuan kebencanaan pascatsunami 2004. Dengan harapan, agar semua yang telah dilakukan dapat diketahui masyarakat luas termasuk mitra di pemerintahan. Selain itu, juga untuk mendorong beberapa Perguruan Tinggi (PT) di Aceh agar melakukan hal serupa. Karena, peran dan tanggung jawab PT dalam upaya penanggulangan bencana yang berkelanjutan sesungguhnya sangat vital.
Dampak Tsunami 2004
Sebagaimana diketahui, sebelum tsu- nami 2004 Aceh sempat didera konflik selama tak kurang dari 30 tahun. Jadi, sangat wajar bila perhatian terhadap isu-isu kebencanaan tida- klah mengemuka saat itu. Ditambah lagi dengan paradigma penanggulangan bencana di Indonesia yang konvensional. Karenanya, meski berada di wilayah sangat rawan bencana, Aceh tidak punya sumber daya manusia (SDM) yang cakap di bidang kebencanaan saat itu dan ti- dak siap menghadapi bencana tsunami dengan skala sangat masif.

Kerusakan dan kerugian akibat tsuna- mi 2004 cukup dahsyat. Tidak kurang dari 800 km garis pantai rusak, dan lebih dari 200.000 orang korban hilang dan meninggal. Selain itu, banyak sekali infrastruktur dan sumber-sumber ekonomi hancur.

Unsyiah juga tidak luput dari dampak tsunami dan gempa. Sejumlah 247 dosen dan staf kependidikan meninggal dunia. Sepertiga dari fasilitas belajar-mengajar, seperti peralatan dan laboratorium, juga hancur. Pendeknya, proses belajar-mengajar di Unsyiah saat itu sempat lumpuh selama 1 semester.
Respon Unsyiah Pascatsunami
Secara umum ada dua respon yang dilakukan Unsyiah pascatsunami 2004, yaitu: respon yang segera (immediate response), dan respon jangka panjang (long term response).
Immediate response bersifat taktis dan berorientasi jangka pendek. Selain normalisasi kondisi kampus yang sempat porak poranda, salah satu fokus Unsyiah saat itu adalah bagaimana dapat berkontribusi dan mendampingi pemeritah daerah dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Seminggu setelah tsunami, Unsyiah membentuk gugus tugas (task force) Unsyiah for Aceh Reconstruction (UAR+) yang terlibat intensif dalam menghasilkan cetak biru atau master plan pembangunan kembali Aceh. Konsepsi UAR+ kemudian diper- luas oleh Pemerintah Pusat
sehingga lahirnya Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR).

Di sisi lain, long term response bersifat strategis dan berorientasi jangka panjang. Pada aspek ini, Unsyiah bertekad untuk fokus mem- bangun kapasitas pengetahuan kebencanaan yang sebelum 2004 nyaris luput dari perhatian.
Ada beberapa alasan penting, mengapa kemudian Unsyiah memandang kapasitas pen- getahuan ini perlu dibangun. Pertama, Aceh sangat rentan terhadap berbagai ancaman ben- cana. Kita tinggal di wilayah yang kaya sumber daya alam namun juga rawan bencana seperti banjir, longsor, gempa, tsunami, gunung berapi, dan lain-lain.

Kedua, sebenarnya tsunami sudah be- berapa kali terjadi di berbagai tempat di Indo- nesia. Yang paling dekat adalah tsunami 1997 di Flores. Tapi mengapa pada 2004, yang hanya berjarak tujuh tahun, sebagian besar masyarakat Aceh tidak mengetahui apa itu tsunami dan bagaimana harus menyelamatkan diri.

Ketiga, bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa di masa lampau Aceh sudah berkali-kali diterjang tsunami. Memang jarak dengan masa lampau itu ratusan bahkan ribuan tahun. Namun tsunami purba tersebut mengirimkan pesan kepada kita bahwa tsunami di Aceh adalah sebuah keniscayaan. Seperti di Jepang, keberu- langan tsunami dipastikan ada, tinggal persoa- lan waktu yang menjadi misteri.

Ketiga alasan di atas meneguhkan pent- ingnya pengetahuan bagi kita yang hidup di tengah-tengah ancaman bencana. Pengetahuan dalam konteks ini dapat bersifat formal maupun non-formal. Selain itu, khazanah pengetahuan masyarakat Simeulu tentang tsunami (Smong) telah membukakan mata hati dan mata intelektual kita untuk mengambil tang- gung jawab merawat pengetahuan bagi anak cucu, generasi mendatang.

Beberapa Upaya
Membangun kapasitas pengetahuan di bidang kebencanaan dapat juga dimaknai sebagai ikhtiar kita untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Karena itu, pascatsunami 2004 Unsyiah memandang bidang ilmu yang terkait dengan kebencanaan sebagai salah satu yang harus ditumbuhkembangkan.

Upaya serius dimulai Unsyiah pada akhir 2006, dengan membangun kapasitas riset di bidang tsunami dan mitigasi bencana melalui pendirian Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana atau Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC). Kelahiran TDMRC saat itu didorong oleh banyak pihak, baik dari mitra nasional maupun internasional. Inisiatif pendirian pusat riset ini juga diinspirasi pengalaman Jepang, di mana setiap terjadi bencana besar akan direspon dengan pembangunan pusat penelitian di wilayah tersebut.

Meski tertatih karena minim pengalaman dan memiliki latar belakang keilmuan yang berbeda, pengelola TDMRC saat itu berhasil membangun jaringan yang solid dan produktif sehingga penguatan kapasitas peneliti dan kelembagaan dapat berlangsung dengan cepat. Lewat interaksinya, TDMRC juga banyak berperan dalam mendukung pemerintah Aceh membangun kapasitas daerah di bidang kebencanaan.
Salah satu milestone penting lainnya ada- lah didirikannya Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan (MIK) pada tahun 2010, atas man- dat dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti). Mandat ini diberikan hanya kepada dua universitas, Unsyiah dan Universitas Gajah Mada (UGM). Prodi MIK berperan dalam mencetak SDM di bidang kebencanaan yang bermuara pada penguatan kapasitas daerah menghadapi bencana. Para alumni, yang merupakan agen pengurangan risiko bencana (PRB), kini telah tersebar di berbagai institusi pemerintah dan swasta.
Sejak 2011 Unsyiah juga menetapkan ma- teri kebencanaan sebagai muatan lokal dalam kurikulum akademik di berbagai program studi. Harapannya, para sarjana lulusan Unsyiah akan memiliki kompetensi yang cukup di bidang kebencanaan sehingga dapat menjadi agen PRB di manapun mereka berada.

Agar lebih kontributif secara keilmuan sekaligus solutif terhadap masalah kebenca- naan, Unsyiah membuka peminatan di bidang kebencanaan di bawah Program Studi Doktor Matematika dan Aplikasi Sains pada pertengahan 2015. Program ini menjadi ujung tombak bagi Unsyiah dalam menghasilkan ilmuan-ilmuan muda dengan pemahaman yang holistik terhadap isu-isu kebencanaan.

Saat ini Unsyiah juga tengah menyiapkan usulan untuk pembukaan Program Studi Sarjana Manajemen Bencana (Disaster Management). Pada penghujung 2016, Unsyiah menargetkan dapat menyelenggarakan pendidikan tinggi di semua tingkatan (sarjana, magister, dan doktoral) di bidang kebencanaan.
Akhir kata, perlu digaribawahi bahwa membangun kapasitas pengetahuan bukan- lah pekerjaan mudah dan sesaat. Dibutuhkan konsistensi dan keberlanjutan antargenerasi selama ancaman bencana masih ada. Tekad Unsyiah untuk terus merawat dan menumbuhkembangkan pengetahuan kebencanaan demi generasi mendatang.

Upaya Unsyiah Membangun Kapasitas Pengetahuan Kebencanaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *