Opini

Pemilihan Rektor Unsyiah, Siapa Menang?

KLIKSATU.COM | BANDA ACEH – Setidaknya ada 3 kandidat balon rektor yang akan memperebutkan posisi tersebut. Pertama Samsul Rizal, Dr. Syahrul dan satu kandidat lain yang kemungkinan didukung Dr. Darni. Bila merujuk dari bursa tersebut, ada pertarungan dua rezim dan satu lagi penengah. Kita semua tahu, Darni dan Samsul Rizal pernah menjadi partner namun akhirnya pecah kongsi.

Setelah bebas dari penjara Kajhu, Dr. Darni mulai bersuara terkait kasus yang menimpa dirinya. Sementara itu, Dr. Samsul Rizal mulai mendapat pujian terkait kinerjanya selama ini. Misalnya soal perpustakaan bertaraf internasional, walaupun ia sebenarnya hanya menikmati hasil kerja Dr. Darni. Dan beberapa prestasi yang sering diungkapkan para pengamat maupun dosen, semuanya hasil kerja Dr. Darni yang diklaim hanya sebagai hasil kerja Dr. Samsul Rizal.

Ada pula yang menyandarkan peringkat Unsyiah secara nasional, sayangnya data dari Kemenristekdikti tidak paparkan. Kita maklum saja, peringkat Unsyiah hanya 27 dibawah Universitas Riau, Universitas Lampung, Universitas Sumatera Utara, Universitas Negeri Medan.

Terkait akreditasi banyak yang lupa perubahan C ke A karena Darni saat menjadi rektor bekerjasama dengan Kemristekdikti dan United States Agency for International Development (USAID). Program Higher Education Leadership and Management (HELM) dimulai tahun 2011. Saat itu rektornya masih Darni sehingga klaim sepihak bahwa meraih A hanya kesuksesan rektor setelahnya tidaklah bijak.

Beberapa tahun sebelum itu, Purek I Samsul Rizal pernah mengatakan bahwa sebab akreditasi C karena pendataan. Sebagai pembantu rektor bidang akademik, hal itu menjadi kegagalannya, sehingga wajar ditahun 2011 Darni mengambil inisiatif melakukan kerjasama dengan pihak-pihak tadi. Namun demikian, sebaiknya kita mengambil kesimpulan bahwa akreditasi C ke A merupakan prestasi keduanya.

Konflik kedua guru besar Unsyiah ini akan semakin kuat menjelang pemilihan rektor. Belakangan ini malah Dr. Samsul Rizal mengajukan nama Ir. Soekarno, sebagai nama jalan. Pengusulan yang dianggap sebagai usaha politik guna menyenangkan hati Megawati dan sedikit “fakir” sejarah. Kita ketahui bersama Jokowi merupakan kader PDIP, dan pemilik suara signifikan, kementrian dibawah Jokowi. Bisa jadi pengusulan nama jalan terkait dengan hal itu.

Konflik Samsul Rizal dan Darni sejak 2012 hingga sekarang masih mengkotak-kotak civitas akademika Unsyiah. Walaupun polarisasi itu tak tampak dipermukaan akan tetapi diwarung kopi hal itu jelas terjadi. Sementara Unsyiah membutuhkan hal lebih, Unsyiah tak butuh klaim prestasi, apalagi klaim tersebut disampaikan internal sebuah rezim.

Unsyiah juga tak butuh konflik dua guru besar terus berlanjut, Unsyiah harus hebat dengan rektor yang hebat, bukan rektor yang terindikasi korupsi akan tetapi seolah bersih. Unsyiah tidak butuh rektor yang sembarangan memberi gelar kehormatan demi mengamankan posisinya.

Sudah saatnya Unsyiah berpikir maju, dengan rektor yang berpikiran maju serta menjadi penengah dua guru besar. Unsyiah harus bebas dari pertarungan dua guru besar, dalam hal ini Dr. Syahrul dapat menjadi alternatif. Tentu keputusan ada ditangan Senat Unsyiah dan Kementrian. Apalagi petahan sedang menggunakan segala cara kembali berkuasa. Belakangan suara internal kampus mulai memujinya dan kelompok pendukung Darni malah sebaliknya.

Saatnya Senat Unsyiah dan Kementrian melirik kandidat baru, baru-baru ini pemikiran dan visinya patut dicermati. Kedua rezim pasti sulit menerimanya, namun demi kebaikan dan kemajuan Unsyiah, sebaiknya Dr. Syahrul pantas diberi kesempatan. Selain bukan dari kedua rezim (Darni dan Samsul Rizal), beliau jelas sekali dapat diterima semua pihak. Semoga Senat Unsyiah dan Kementrian menggunakan akal sehat dalam menentukan rektor Unsyiah.

Sumber: kliksatu.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *