Opini

Menimbang Calon Rektor Unsyiah

Oleh Aryos Nivada

Peneliti Jaringan Survei Inisiatif

Senat Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Darussalam, Banda Aceh – akan menggelar Sidang Pemungutan Suara Pemilihan Rektor dalam waktu dekat. Tiga kandidat, Prof Dr Samsul Rizal, M.Eng, Dr dr Syahrul, Sp.S, dan Dr. nat tech Syafruddin, SP, MP, akan memperebutkan 65% suara Senat universitas itu, dan 35% suara Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan tinggi (Menristekdikti).

Pada tahap penjaringan dan penyaringan calon sebelumnya, Samsul tampak berada di atas angin. Ia meraup 65,4% dari 78 suara senat, Syahrul 30,8%, dan Syafruddin hanya kebagian 2,7% suara. Tapi, suara ex officio Menristekdikti yang 35% itu–sesuai Permenristekdikti Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Rektor/Ketua/Direktur pada Perguruan Tinggi Negeri merupakan “bola liar” yang dapat mencungkirbalikkan hasil tersebut.

Karena itu pelbagai kemungkinan bisa terjadi pada pemungutan suara senat secara tertutup nanti. Safruddin yang tampak pada urutan buncit pun bisa melesat meninggalkan dua kandidat lainnya. Tulisan ini coba mempersandingkan Syahrul dan Samsul yang tampak bersaing ketat, meski masih sulit diprediksi siapa yang bakal memimpin Perguruan Tinggi Unsyiah untuk periode 2018-2022.

Syahrul

Syahrul maupun Samsul bukan orang baru Unsyiah. Keduanya sudah mengabdi di Unsyiah sejak muda. Syahrul dosen Fakultas Kedokteran (FK) sejak tahun 1989 hingga saat ini. Selama karirnya di FK Unsyiah, alumni Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang, itu pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran (1998-2002), Pembantu Dekan I Fakultas Kedokteran (2000-2004), Dekan Fakultas Kedokteran dua periode (2004-2008 dan 2008-2012).

Pada saat jabatannya sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Unsyiah berakhir, dokter ahli saraf itu mengicar posisi baru di luar kampus. Hasilnya, Gubernur Aceh Zaini Abdullah waktu itu menunjuknya sebagai Direktur RSUD dr Zainoel Abidin pada tahun 2012. Namun, ketika Gubernur Zaini memintanya sebagai Staf Ahli Gubernur Aceh Bidang Keistimewaan Aceh dan Sumber Daya Manusia pada Oktober 2014, Syahrul ‘menolaknya’ dengan dalih tidak sesuai dengan keahliannya.

Bagi Syahrul, daripada distafahlikan Zaini lebih baik mencari oase baru di luar lingkar pemerintahan Aceh. Pemilik gelar doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat itu pun melenggang ke Kota Banda Aceh untuk menjadi Direktur Rumah Sakit Meuraxa. Tapi entah apa yang terjadi selama dua tahun ia di sana. Tiba-tiba media memberitakan Syahrul mengundurkan diri dari Rumah Sakit Meuraxa dan memutar arah kemudi kembali ke Darussalam. Kali ini ia mencoba keberuntungan lagi dengan cara merebut posisi Rektor Unyiah, dan berupaya mengalahkan rival-nya, Samsul Rizal.

Selama karirnya di dalam maupun di luar kampus, Syahrul mencatat jejak sebagai modifikator kurikulum pendidikan Fakultas Kedokteran Unsyiah untuk meningkatkan kompetensi lulusan pendidikan profesi itu. Selama dua tahun menjabat Direktur Rumah Sakit Meuraxa Banda Aceh, ia disebut-sebut sukses mengurai kekusutan manajemen pelayan di rumah sakit itu, dan meraih status Paripurna dari Kementerian Kesehatan RI.

Samsul

Lain Syahrul lain pula Samsul – kandidat Calon Rektor Unsyiah incumbent. Bila Syahrul jauh melanglang buana ke luar kampus, Samsul justru memilih setia menjaga, merawat, dan mengembangkan, Universitas Syiah Kuala. Bila ia mau berpetualang ke luar kampus, tidaklah terlalu sulit bagi penyandang gelar Doktor dari Jepang itu meraih jabatan-jabatan strategis di luar kampus. Samsul tak memilih jalan itu dan tetap fokus pada jalur karirnya sebagai akademisi plus peneliti.

Tak heran bila Samsul meraih prestasi sebagai dosen terbaik pertama di tingkat Fakultas Teknik dan terbaik kedua pada tingkat universitas tahun 1994. Kesibukannya mengajarkan mahasiswa tidak menyurutkan semangatnya di bidang penelitian. Peneliti terbaik Unyiah pun disandangnya pada tahun 2006. Selain mengajar dan meneliti, bakat kepemimpinannya ditunjukkan ketika ia menjabat Pembantu Rektor I Unyiah. Samsul dikenal sebagai pejabat rektorat yang mudah ditemui dan santun melayani “rakyat” di kampusnya.

Type kepemimpinan melayani “rakyat” itu ternyata mengantar Samsul Rizal ke pucuk pimpinan Unsyiah tahun 2012 – berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137/MPK.A4/KP/2012 tertanggal 29 Maret 2012. Kesempatan ini tak disia-sikannya. Kepercayaan itu dimanfaatkan Samsul secara optimal. Ia bekerja keras melengkapi sarana dan prasarana Unsyiah, dan peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusianya.

Tangan dingin Samsul membuat Unsyiah tumbuh pesat di bawah kepemimpinannya, dalam lima tahun terakhir (2012-2017). Jumlah fakultas meningkat dari sembilan menjadi 13 fakultas. Program Studi (Prodi) bertambah dari 92 menjadi 132 Prodi. Jenjang S1 dari 49 menjadi 63 jurusan. Program S2 dari 22 menjadi 32 program. Program S3 peningkatannya enam kali lipat dari 1 Program menjadi 7 Program saat ini. Pendidikan profesi dari empat menjadi enam profesi. Begitu juga Program Dokter Spesialis dari dua program menjadi sembilan profesi.

Penambahan Prodi dan jenjang pendidikan itu tidak mungkin terjadi apabila tidak diiringi dengan peningkatan sumber daya manusia yang memadai. Karena itu, seiring dengan penambahan program studi, Samsul juga mendorong peningkatan jumlah staf pengajar Unyiah. Pada tahun 2012 jumlah dosen S3 hanya 301 orang dan guru besar (profesor) 40 orang. Bandingkan saat ini, jumlah dosen S3 di Unsyiah sudah mencapai 498 orang dengan jumlah profesor sebanyak 49 orang.

Selain penambahan program studi dan pengembangan SDM, Samsul juga membenahi sarana dan prasarana universitas seperti layanan perpustakaan, sistem informasi manajemen, dan pengembangan gedung baru. Gedung yang sedang dibangun meliputi Fakultas Matematika, Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), dan Fakultas Kelautan dan Perikanan. Pembangunan yang dibiayai dengan bantuan Saudi Fund for Development (SFD) itu diperkirakan tuntas pada tahun 2018.

Kerja keras Samsul bersama civitas akademika Unsyiah lainnya telah membuahkan hasil yang nyata dan signifikan. Nilai Akredasi Unyiah yang sebelumnya pada level paling rendah, Akreditasi C, kini lompat galah ke level tertinggi, Akreditasi A. Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Nomor 736 Tahun 2015 merupakan fakta tak terbantahkan.

Selain pengakuan BAN-PT, kilauan Unsyiah juga diakui The Scimago Institutions Rankings (SIR). SIR merupakan lembaga pemeringkatan perguruan tinggi/Institusi penelitian di dunia, dan menilai Unsyiah terbaik nomor empat di Indonesia. Unsyiah dinilai memiliki sejumlah keuanggulan, terutama faktor penelitian, faktor inovasi, dan dampak keberadaannya dalam dinamika sosial masyarakat Aceh.

Fakta-fakta di atas menunjukkan Syahrul maupun Samsul memiliki karir panjang dan meninggalkan jejak prestasi sesuai kadarnya masing-masing. Keduanya memang tidak tepat dikomparasikan secara apple to apple. Syahrul pernah dua periode memimpin Fakultas Kedokteran, dan Samsul kenyang pengalaman di pucak piramida kepemimpinan universitas.

Syahrul baru kembali dari medan laga birokrasi dari luar kampus, sementara Samsul rajin menyeka peluh mengembangkan kampus Unsyiah. Kini keduanya sedang berada di atas neraca untuk ditimbang, dinilai, dan ditakar. Salah satu dari mereka berdua akan dipilih oleh senator sebagai Rektor Unsyiah periode 2018-2022.

Sekali lagi, suara Menristekdikti yang 35% itu, tetap “bola liar” yang bisa diberikan kepada salah satu calon Rektor itu, sesuai kepentingannya. Tetapi para senator Unsyiah pasti jauh lebih mengenal sosok terbaik bagi masa depan kampusnya, dan pantas mendapatkan 90% suara mereka. Kita hanya ingin mendengar senandung vox populli vox die muncul dari sanubari jantong-hatee rakyat Aceh, di Darusssalam itu. Semoga! (sumber:dialeksis.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *