Opini

Memaknai Akreditasi A Unsyiah

UNIVERSITAS Syiah Kuala (Unsyiah) pada 6 Agustus 2015 lalu, mendapatkan legal resmi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) untuk menyandang akreditasi terbaik dalam rank penilaian perguruan tinggi yaitu Akreditasi A. Semua pihak riuh rendah dalam euforia kesenangan. Betapa tidak dengan mendapatkan Akreditasi A “si jantong hate” telah membuktikan bahwa Aceh setara dengan wilayah ibu kota negara dalam hal kualitas universitas yang juga bisa diartikan kualitas pendidikan daerah.
Sejauh ini, Indonesia hanya memiliki 23 universitas yang menyandang Akreditasi A dari BAN-PT dan hanya ada tiga universitas di luar pulau Jawa yang menyandang akreditasi terbaik ini, yaitu Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar di Sulawesi Selatan, Universitas Andalas (Unand) Padang di Sumatera Barat, dan sekarang Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh (Serambi, 7/8/2015) dan tentu saja ini adalah prestasi yang sangat membanggakan dan mungkin bisa menjadi salah satu kado terbaik untuk 10 tahun pascakonflik di Aceh mereda.
Tentu saja ini tidak lepas dari kerja keras banyak pihak, terutama pihak Rektorat Unsyiah yang telah jauh-jauh hari mempersiapkan agar mimpi buruk Akreditasi C segera berakhir. Segala cara dan usaha ditempuh untuk bisa mendapatkan akreditasi terbaik dan hasilnya Unsyiah pun mendapatkan “piala emas” itu.
Namun apakah pekerjaan rumah kita telah selesai setelah salah satu universitas terbesar di Aceh ini mendapatkan Akreditasi A? Apakah pekerjaan kita telah selesai sempurna, setelah Unsyiah diakui publik Nasional sebagai kampus yang masuk deretan kampus elite?
Tentu saja kita paham bahwa ini hanyalah awal bagi sektor pendidikan kita untuk segera berbenah. Akreditasi A Unsyiah seakan menjadi batu loncatan baru bagi dunia pendidikan Aceh untuk mengambil langkah besar dalam membenahi segala lini, termasuk upaya meningkatkan kualitas sektor pendidikan yang dalam beberapa tahun berada di posisi terbawah secara Nasional.

Efek sistemik
Betapa tidak, dengan Akreditasi A yang tersandang gagah di bahu Unsyiah, maka efek sistemik pun terjadi dan bahkan efek tersebut sampai di luar dugaan kita. Dengan akreditasi terbaik tersebut universitas yang dijuluki jantong hate rakyat Aceh ini, seakan menjadi motor baru untuk meningkatkan kemajuan Aceh dari berbagai sektor terkhusus bidang pendidikan.
Dengan akreditasi A tersebut secara otomatis siswa tamatan sekolah di luar Aceh akan berbondong-bondong masuk ke Unsyiah mengingat ada beberapa lembaga bergengsi yang hanya bersedia menerima pegawai yang notebene berasal dari kampus yang berakreditasi A dan ini merupakan lahan basah bagi Unsyiah untuk menunjukan eksistensinya dalam ranah nasional.
Unsyiah tentu tidak bisa serta merta menolak siswa yang berasal dari sekolah di luar Aceh mengingat dana yang diapakai kampus itu juga berasal dari uang negara oleh sebab itu gempuran siswa di luar aceh bahkan di luar Indonesia tak terbendung lagi ke depannya. Hal tentu menjadikan mawas diri agar tak kalah dalam kompetisi.
Tentu saja hal yang paling utama harus diperhatikan oleh semua elemen yang bertanggung jawab adalah mutu lulusan SMA sederajat yang harus ditingkatkan. Jika tidak, bukan hal yang mustahil Unsyiah akan dipenuhi oleh siswa luar Aceh dan asoe lhok (pribumi) akan tersisih ke kampus yang bahkan belum terakreditasi BAN-PT. Oleh sebab itu, pendidikan Aceh mau tidak mau harus berbenah sesegara mungkin untuk menciptakan lulusan berkualitas agar tidak tergilas karena kalah bersaing dan tidak punya nilai kompetitif

Efek yang selanjutnya adalah, Aceh harus mampu mempertahankan stabilitas keamanan karena ini juga merupakan satu alasan siswa di luar Aceh memilih untuk kuliah di Unsyiah. Bukan hal yang mustahil Aceh dengan Unsyiah dan UIN Ar-Raniry akan mampu mencipkan kota pelajar yang benar-benar dikenal Nasional dan Darussalam tentu akan semakin meluas dan semakin maju.
Predikat terbaik yang didapat Unsyiah tentu akan mennjadi perhatian nasional oleh sebab itu kunjungan kerja ke kampus jantong hate rakyat Aceh ini akan semakin meningkat. Pertukaran pelajar mungkin akan menjadi hal yang biasa ke depannya. Kaum akademisi luar Aceh tentu akan berkunjung ke Unsyiah dan Aceh mungkin seminar nasional dan internasional akan sering terjadi di Darussalam.

Harus mumpuni
Dengan begitu, fasilitas pendukung haruslah mumpuni dan sesuai dengan predikat terbaik yang disandang. Segala bentuk pembenahan harus dilakukan dan segala jenis infrastruktur harus dikembangkan. Singkatnya, akreditasi baru yang disandang Unsyiah akan memberikan efek yang sangat banyak dan dari segala penjuru.
Berbagai sektor mungkin akan terkena imbas dari hal ini dan yang paling besar adalah sekolah-sekolah di Aceh harus mampu meningkatkan kualitas jangan sampai tidak lulus di Unsyiah karena kalah bersaing dengan siswa di luar Aceh. Tentu sangat disayangkan jika kursi kampus yang berakreditas A dan letaknya di depan mata akan dikuasai oleh calon mahasiswa di luar Aceh hanya karena lulusan SMA sederajat kita tidak punya kapasitas untuk bersaing. Terlebih lagi jurusan favorit seperti farmasi atau kedokteran yang katanya mulai dipenuhi siswa di luar Aceh. Sangat disayangkan.
Oleh sebab itu, penulis ingin mengajak semua pihak yang terlibat untuk memikirkan dan merenungi efek sistemis ini. sekarang bukan lagi saatnya kita bersantai dan apatis. Namun sekaranglah saatnya kita berbenah sesuai dengan kapasitas masing-masing yang kita miliki dan tentu saja otoritas tentinggi ada pada pemerintah untuk mengambil kebijakan yang win win solution. Sudah saatnya kita berpikir cerdas dan jangan terlalu sibuk dengan hal kecil.
Akreditasi A Unsyiah membawa banyak efek yang harus disikapi secara positif oleh semua pihak. Kampus yang terkenal dengan sebutan jantong hate rakyat Aceh itu benar-benar harus dijaga dan dimajukan. Semoga ini adalah langkah awal dunia pendidikan kita memasuki babak baru, yang tentunya babak yang lebih baik. Semoga!

Penulis : M. Fajarli Iqbal, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh. Email: fajarliiqbal@gmail.com

http://aceh.tribunnews.com/2015/09/12/memaknai-akreditasi-a-unsyiah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *